“No Protection, No Production!” ujar mahasiswa Jurusan Proteksi Tanaman UNILA disela-sela acara Kunjungan Ilmiah ke Kampung Rejo Asri, Kecamatan Seputih Raman, Lampung Tengahpada hari Sabtu, 26 Oktober 2019. Kegiatan kunjungan ilmiah dengan tema “Menciptakan Mahasiswa Proteksi Tanaman yang Aktif dan Berwawasan dalam Bidang Proteksi Tanaman” selain menjadi agenda rutin program kerja Himaprotekta juga bertujuan untuk mempererat silaturahmi antara mahasiswa Proteksi Tanaman di semua angkatan dan dosen Proteksi Tanaman. Selain itu acara ini bertujuan untuk mengenalkan pertanian ramah lingkungan kepada mahasiswa Proteksi Tanaman angkata 2019.
Kegiatan kunjungan ilmiah diawali dengan pengarahan kepada peserta di Fakultas Pertanian yang dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Bapak Dr. Kuswanta F Hidayat di Pelataran Gedung C Fakultas Pertanian.

Pengarahan oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Bapak Dr. Kuswanta F Hidayat
Acara kemudian dilanjutkan menuju lokasi kunjungan di Kampung Rejo Asri. Di lokasi mahasiswa dikumpulkan di pabrik penggilingan padi PP GAPSERA Sejahtera Mandiri untuk penyambutan dan pengarahan dari perangkat kampung. Acara dibuka secara langsung oleh Kepala Kampung Rejo Asri Bapak Bambang beserta dosen Proteksi Tanaman dan pegawai PP GAPSERA.

Pembukaan acara kunjungan ilmiah oleh Dosen Proteksi Tanaman Ir. Solikhin, M.P.
Setelah itu acara berlanjut ke agenda pengamatan lapangan dan penjelasan mengenai budidaya komoditas pertanian di sekitar Taman Wisata Edukasi Agroekosistem Segar Asri. Komoditas pertanian yang diamati adalah bawang merah, kacang tanah, jagung, pare dan terong. “Jangan khawatir bila kita memiliki lahan sempit, kita masih bisa hidup dengan mengandalkan bertani sebagai mata pencaharian, kita dapat melakukan penanaman komoditas yang berbeda dalam suatu lahan tentunya dengan mengatur waktu tanam setiap komoditas sehingga kita dapat panen setiap hari” ujar Bapak Supardi sambil melakukan pengarahan pada mahasiswa yang mengamati komoditas bawang merah. Beliau juga menambahkan bahwa pengendalian ramah lingkungan dengan menggunakan tanaman bunga (refugia). “Dengan menggunakan tanaman refugia maka musuh alami seperti predator dan parasitoid akan datang ke lahan persawahan kita dan dengan adanya mereka, maka tanaman yang kita tanam akan aman dari serangan hama tumbuhan” kata beliau.


Penjelasan dari masing-masing PJ kelompok oleh PP GAPSERA
“Pada tanaman terong hama utama yang menyerang adalah kumbang. Hewan ini mengakibatkan daun tanaman terong menjadi berlubang” kata Bapak Sukarlin kepada mahasiswa. Beliau melanjutkan “ Hama kumbang yang menyerang tanaman terong sangat mirip dengan kumbang predator, namun bisa dibedakan dengan melihat pola titik dan kecerahan pada bagian elitranya. Elitra kumbang yang bersifat hama biasanya lebih kusam sedangkan yang predator biasanya lebih bersih dan mengkilap” imbuhnya.
Hari sudah semakin panas, beberapa mahasiswa yang melakukan pengamatan pada tanaman jagung mulai berteduh dan berdiskusi dengan Bapak Priyanto dibawah pohon jambu mente. “Dulu hama tanaman jagung adalah penggerek batang jagung, penggerek tongkol, ulat grayak dan lalat bibit sedangkan penyakitnya adalah penyakit bulai namun sekarang ditambah lagi dengan hama baru yang dihadapi oleh petani pada tanaman jagung adalah Spodoptera frugiperda” kata beliau. Beliau menambahkan “Sebenarnya banyak sekali tanaman yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama tersebut seperti penggunaan fermentasi daun tanaman mimba yang banyak ditemukan di pekarangan rumah”.
Pada pengamatan tanaman pare hama yang paling sering ditemui adalah lalat buah. “Perilaku lalat buah yang bertelur pada buah pare mengakibatkan pare menjadi gagal berkembang, metode yang paling efektif adalah dengan penyungkupan pada buah paare namun biasanya petani mengatasi dengan menggunakan zat penarik (atraktan) metil eugenol” penjelasan bapak Rosyadi. Pada pengamatan tanaman kacang tanah hama yang sering ditemui adalah kepik penghisap pucuk tanaman kacang tanah. Kepik tersebut mengakibatkan pucuk tanaman kacang menjadi layu dan mati. “Hama yang berbahaya bagi kacang tanah adalah hama tikus sawah (Rattus argentiventer). Hama ini menggali tanah unuk menemukan polong kacang tanah dan memakannya” ujar Bapak Zainal. “Untuk mengatasi hama tikus kita menangkalnya dengan menggunakan burung hantu (Tyto alba) dengan menyediakan rumah buatan untuk burung hantu di sawah kita” kata beliau sambil menutup sesi turun lapang mahasiswa.

Pelatihan pembuatan MOL bonggol pisang
Sesi dilanjutkan dengan melakukan pelatihan pembuatan MOL bonggol pisang. MOL sangat baik untuk diaplikasikan pada tanaman budidaya. Selain meningkatkan mikroorganisme baik, MOL juga mengekstraksi zat-zat maupun hormon yang berguna bagi pertumbuhan tanaman. Pembuatan MOL bonggol pisang dimulai dengan menyiapkan bahan-bahan seperti, bonggol pisang, rebung (tunas bambu), suluri dan tetes tebu (molase). Bahan bahan tersebut kemudian dihaluskan dengan dicacah atau diblender dan dimasukkan kedalam wadah yang dapat ditutup rapat. Setelah semua bahan dimasukan dalam wadah, kemudian difermentasikan dan ditutup rapat dengan menggunakan plastik. MOL akan jadi dan siap dipalikasikan setelah 2-3 minggu. Rangkaian kegiatan ditutup dengan pemberian doorprize dari pegawai PP GAPSERA lalu pemberian cinderamata oleh HIMAPROTEKTA dan dilanjutkan dengan foto bersama.

Pemberian cinderamata oleh HIMAPROTEKTA kepada PP GAPSERA

Foto bersama antara mahasiswa, pegawai PP GAPSERA dan Dosen Proteksi Tanaman.
